Rabu, 29 April 2009

Dakon


Kehidupan dunia 'cyber', tanpa disadari telah menjauhkan anak-anak jaman sekarang dengan berbagai jenis permainan tradisional. Beberapa jenis permainan itu semakin lama semakin jarang ditemukan bahkan mulai menghilang dari peredaran. Anak-anak hampir tidak mengenal, apalagi menguasainya. Salah satu jenis permainan tersebut adalah: dakon atau congklak. Dalam bahasa Inggris, dakon disebut juga count and capture. Di negara-negara Arab disebut macala. Di Nigeria permainan ini namanya adi, sementara di negara Afrika Barat disebut warri atau awari. Masyarakat Filipina menyebutnya sungka dan di Malaysia disebut congkak. Dakon sebenarnya berasal dari Yordania dan sudah ada sejak 5000-7000 SM. Manfaat bermain dakon antara lain melatih anak dalam ketrampilan berhitung, mengatur dan menyusun strategi untuk memperoleh keuntungan. Permainan ini dilakukan oleh 2 orang, biasanya anak-anak berusia sekitar 8-12 tahun. Bahan yang diperlukan untuk bermain dakon adalah:
  • Papan dakon. Dahulu papan dakon dibuat dari gelondongan kayu (bisa juga batang pohon kelapa) yang dibelah dua. Masing-masing belahan dibuat dua jajaran lubang berjumlah 7 (bisa 5-10 lubang per baris). Pada tiap-tiap ujungnya (kanan & kiri) dibuat 1 lubang yang lebih besar dari lubang-lubang sebelumnya, gunanya untuk menabung biji dakon dari tiap pemain. Lubang tabungan tiap pemain ada di sebelah kiri. Sekarang papan dakon masih bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional, tetapi sebagian besar berbahan plastik. Apabila tidak mempunyai papan dakon, permainan dapat dilakukan dengan membuat lubang-lubang di tanah.
  • Biji dakon. Biji dakon biasanya menggunakan biji buah asam, tetapi bisa juga dengan menggunakan batu kerikil, biji sawo, kerang-kerang kecil, dan sebagainya. Isi tiap-tiap lubang kecil dengan biji-biji tersebut sebanyak jumlah lubang tiap baris. Jika pada tiap baris terdapat 7 lubang kecil, maka tiap lubang diisi dengan 7 biji. Maka total biji yang diperlukan adalah 7x7x2 baris=98 biji.
  • Cara bermain. Tiap pemain mengisi lubang-lubang dakonnya dengan biji, lalu diundi siapa dulu yang akan memulai permainan. Pemain yang mendapat giliran pertama akan meraup semua biji yang ada di salah satu lubang kecil (lubang yang ada di hadapannya). Kemudian menaburkan satu persatu biji tersebut ke dalam lubang kecil berikutnya (dilakukan searah jarum jam), termasuk ke dalam lubang tabungan sendiri dan lubang-lubang kecil milik lawan, tetapi tidak untuk lubang tabungan lawan. Jika biji terakhir jatuh di lubang yang masih ada bijinya, ambil semua biji (termasuk biji terakhir) kemudian lanjutkan menabur biji-biji baru tersebut ke dalam lubang-lubang kecil berikutnya. Jika biji terakhir jatuh di lubang tabungan, kita boleh melanjutkan permainan dengan cara yang sama seperti semula, yaitu ambil biji dari sembarang lubang kecil, lalu teruskan mengisi lubang-lubang kecil berikutnya dengan biji-biji tersebut. Jika biji terakhir jatuh di lubang kosong milik lawan, atau di lubang sendiri dengan lubang kosong di hadapan, maka giliran lawan untuk memulai permainan. Jika biji terakhir jatuh di lubang kosong milik sendiri, sementara lubang lawan di hadapannya berisi biji-bijian, maka ambil semua biji yang ada di dalam lubang lawan dan biji trakhir yang masuk di lubang sendiri. Giliran lawan yang bermain. Permainan berakhir jika semua biji dakon sudah masuk ke dalam lubang tabungan masing-masing pemain. Yang mengumpulkan biji lebih banyak, maka dialah pemenangnya. Jika hendak bermain beberapa babak, maka permainan selanjutnya dimulai dengan jumlah biji yang diperoleh dari babak sebelumnya. Jadi ada pemain yang mempunyai tabungan, ada pula yang kekurangan.

1 komentar: